Logo SPS Punguan Simbolon Pande Sahata (SPS) Indonesia
BerandaTentang SPSMubes SPS 1966Tarombo SPS

Tentang Simbolon Pande Sahata

Simbolon Pande Sahata adalah generasi ke-7 dari Si Raja Batak.

Tarombo Si Raja Batak

Tarombo Si Raja Batak

Dan dari Tuan Sorba Dijulu atau Nai Ambaton, Simbolon Pande Sahata adalah generasi ke-4. Tuan Sorba Dijulu atau Nai Ambaton atau digelari juga sebagai Datu Sindar memiliki 5 orang anak yaitu Bolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munte Tua, dan Nahampun Tua serta 1 orang anak perempuan yang bernama Pinta Haomasan. Simbolon Pande Sahata adalah generasi ketiga atau cucu dari Bolon Tua.

Tarombo Naiambaton

Tarombo Naiambaton

Simbolon Pande Sahata adalah anak ke-3 dari Suri Raja, adek dari Tuan Nahoda Raja dan Altong Nabegu atau generasi ke-3 dari keturunan Simbolon Tua atau Bolon Tua.

Tarombo Simbolon

Tarombo Simbolon Tua (Bolon Tua)

Bonapasogit atau kampung halaman Simbolon Pande Sahata berada di Rianiate, Samosir. Saat ini diperkirakan keturanan Simbolon Pande Sahata sudah mencapai ribuan orang yang kini tersebar di seluruh nusantara dan dunia. Namun hingga saat ini sebagain besar keturunan Simbolon Pande Sahata masih menempati huta Rianiate, Samosir dan sebagian lagi tersebar mamukka huta di beberapa tempat di daerah Samosir seperti Pangururan, Sigorat, Lintong Nihuta, Sitonggitonggi, Ronggur Nihuta dan Salaon.

Huta Rianiate

Huta Rianiate

Pada tahun 1966, keluarga besar Simbolon Pande Sahata melaksanakan Musyawarah Besar di Rianiate dan bersepakat untuk mendirikan tugu yang akan dijadikan sebagai monumen untuk mempersatukan seluruh keturunan Simbolon Pande Sahata. Biaya pembangunan tugu dikumpulkan dari seluruh keturunan Simbolon Pande Sahata melalui guguan dari tiap-tiap keluarga. Pada saat bersamaan, Tarombo Simbolon Pande Sahata juga disusun dan disepakati sebagai tarombo (silsilah) yang sah bagi keturunan SPS.

Tugu Simbolon Pande Sahata

Tugu SPS (Simbolon Pande Sahata)

Keturunan Simbolon Pande Sahata telah menghasilkan beberapa tokoh berpengaruh di tingkat nasional seperti Parakitri Tahi Simbolon (seorang esais, sosiolog, wartawan/redaktur senior Harian Kompas, dan pendiri penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)), Mahidin Simbolon (seorang Purnawirawan TNI-AD yang pernah menduduki jabatan Pangdam XVII/Trikora, Danpusterad, dan Irjenad dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal), Marhuale Simbolon (seorang pensiunan perwira tinggi Angkatan Laut Indonesia yang terakhir menjabat sebagai Kepala Dinas Fasilitas Pangkalan Angkatan Laut dengan pangkat terakhir Laksamana Pertama), dan lain-lain.